Membicarakan tentang perasaan, mungkin banyak dari kita
yang menyimbolkannya dengan hati dan mewakili perasaan kita dengan hati seperti
ketika kita berkata “Eh.. Hari ini aku lagi sakit hati” sambil menunjuk ke arah
dada, padahal letak hati bukan di dada namun terletak dalam rongga perut
sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma.
Dan orang-orang Eropa mewakili perasaan mereka dengan
organ jantung(heart) seperti “My heart just for you” dan perasaan ini sering
disimbolkan dengan bentuk dan gambar mirip organ jantung dan kita sering
menyebutnya dengan gambar “Love”.
Maka akan timbul pertanayaan, apakah sebenarnya hati itu
? Apakah perasaan kita benar-benar terletak di hati ? Lalu kenapa saat mengucapkan kata
hati justru kita menunjuk kearah jantung? Maka berikut penjelasannya secara
ilmiah dan logis yang saya dapat dari berbagai sumber.
Menurut Wikipedia bahasa Indonesia,
Hati adalah kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut
sebelah kanan, tepatnya di bawah diagrafma Berdasarkan fungsinya, hati juga
termasuk sebagai alat ekskresi. Hal ini dikarenakan hati membantu fungsi ginjal
dengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun dan menghasilkan
amino, urea dan asam urat dengan memanfaatkan nitrogen dari asam amino. Proses
pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses detoksifikas.
Kesimpulannya Hati itu organ yg
berfungsi sebagai penawar racun dan tidak ada sangkut pautnya dengan perasaan.
Lalu kenapa orang Indonesia mewakili perasaan dengan hati ? Akan terjawab di
bawah nanti.
Menurut Wikipedia bahasa Indonesia,
Jantung adalah (bahasa latin, cor) merupakan sebuah rongga, rongga organ
berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang
berulang. Jadi jantung adalah organ yang berfungsi untuk mengedarkan darah(
dengan cara memompa) keseluruh tubuh.
Lalu kenapa orang-orang Eropa
mewakili perasaan dengan jantung ? Ini semua bermula dari filsafat Aritoteles
yang mengatakan bahwa jantung adalah pusat pemikiran dan emosi.
Para ahli fisiologis
menyebutkan bahwa jantung memiliki system komunikasi yang lebih luas dengan
otak dari pada organ tubuh kita yang lain.
DR J. Andrew Armour memastikan adanya sebuah Otak yang
sangat rumit di dalam Jantung. Di dalam Jantung kita terdapat lebih dari 40.000
neuron yang bekerja dengan presisi yang sangat tinggi untuk mengendalikan detak
Jantung, produksi hormon dan penyimpanan informasi. Selanjutnya informasi ini
dikirim ke Otak. Informasi ini memegang peranan vital dalam kesadaran dan
pemahaman.
Setelah melakukan banyak penelitian, DR. Paul Pearsall
berkata: “Jantung dapat merasa dan mengingat dan ia mengirimkan getaran untuk
berko-munikasi dengan Jantung-jantung lain. Ia juga membantu pengaturan
immunitas tubuh. Ia juga mengirimkan informasi pada setiap detakan ke seluruh
tubuh“ Beberapa peneliti bertanya: “Mungkinkah ingatan tetap di lubuk Jantung
terdalam?” Di dalam Bukunya, Dr Paul menulis: “Saat tiba-tiba Anda merasa
gembira atau sedih, Anda menempelkan tangan di dada tanpa Anda sadari”.
Para peneliti memastikan Jantung dengan pengaturan
harmonisnya mengendalikan seluruh tubuh. Hal yang dianggap sebagai metode
menghubungkan semua sel saat darah mengalir ke setiap sel kemudian memberi
makan tidak saja dengan oxygen tapi juga informasi.
Di HeartMath Institut, mereka menemukan Jantung memiliki
medan listrik yang kuat yang mempengaruhi lingkungan sekelilingnya. Karenanya
manusia dapat berkomunikasi dengan yang lain dengan Jantungnya tanpa berbicara.
Mereka juga menemukan relasi antara pulsa Jantung dan gelom-bang yang
dipancarkan dari Otak (gelombang Alfa). Semakin banyak Jantung berdetak semakin
banyak gelombang ditransmit dari Otak. Heart Math Institut telah melakukan
banyak percobaan untuk membuktikan Jantung memancar getaran electromagnetik
yang mempengaruhi Otak. Maka, Jantung boleh jadi mempe- ngaruhi kesadaran dan
pemahaman manusia. Mereka juga telah menemukan bahwa Jantung memancarkan medan
listrik yang kuat yang mengendalikan seluruh tubuh manusia.
Dr. Armour berkata bahwa Jantung memiliki sebuah sistem
spesial dalam pengolahan informasi yang datang dari seluruh tubuh. Dan
keberhasilan setiap pencangkokan jantung bergantung dari sistem syaraf dari
jantung donor dan kemampuannya beradaptasi dengan pasien.
Pasien-pasien yang jantung aslinya diganti dengan jantung
buatan akan mengalami perubahan psikologis, hal ini di buktikan oleh penelitian
Prof. Gary Schwartz.
Prof. Gary Schwartz specialis Kejiwaan di Universitas
Arizona dan Prof. Linda Russek yakin kalau jantung memiliki kekuatan khusus
yang membuatnya dapat menyimpan dan mengolah informasi. Karenanya memori itu
tidak saja ada di Otak tapi juga di Jantung. Prof Gary melakukan penelitian
yang melibatkan lebih dari 300 pasien yang melakukan operasi pencangkokan
Jantung. Dia menemukan kalau semua pasien itu mengalami berbagai perubahan
psikologis setelah operasi.
Temuan menarik lainnya pada semua orang yang
mengganti Jantungnya dengan jantung buatan, mereka telah kehilangan perasaan
dan kemampuan untuk mencinta. Pada 11/8/2007, koran Washington Post memuat
laporan tentang Peter Houghton yang melakukan operasi pencangkokan jantung
buatan. Dia berkata: “Perasaanku telah berubah, Saya tidak mampu mengetahui apa
yang Saya benci dan apa yang Saya cintai bahkan Saya tidak punya rasa apapun
kepada cucu-cucu Saya”.
Rollin McCraty dan Mike Atkinson melakukan penelitian
yang dipublikasikan di pertemuan tahunan Pavlovian Society. Mereka menemukan
adanya hubungan antara Jantung dan Kesadaran. Mereka membuktikannya dengan
mengukur aktivitas electromagnetik Jantung dan Otak saat orang berusaha
memahami sesuatu. Mereka menemukan bahwa saat performa Jantung pada level
rendah, Kesadaran pun akan rendah.
Dari temuan-temuan ilmiah tersebut dapat disimpulkan
bahwa fungsi jantung yang sesungguhnya adalah lebih dari sekadar memompa darah
dan menyuplai oksigen, namun juga berfungsi untuk berfikir dan merasakan
berbagai emosi yang terjadi dalam diri kita. Itulah karenanya, ketika kita
merasa sedih, kecewa, marah, atau bahagia tanpa sadar tangan kita memegang dan
mengelus dada, karena di dalam jantung yang tersimpan dalam dada itulah segala
perasaan bermuara.
Semua hal diatas juga dapat dibuktikan secara sederhana,
ketika kita merasa takut, marah, atau sedang gerogi bukankah jantung kita yang
berdebar-debar /berdegup lebih kencang bukan hati kita.
Dan berdasarkan
penelitian para ilmuan-ilmuan diatas jelaslah bahwa jantung bukan hanya sekedar
organ pemompa darah tapi lebih kepada organ yang sangat vital yang menentukan
karakter kita.
Berarti
kita juga telah melakukan kesalahan dalam membicarakan kata Hati (perasaan)
ini, karena yang kita maksud sebenarnya bukanlah organ hati tetapi adalah organ
jantung karena pada saat kita mengucapkan hati kita pun menunjuknya kearah
jantung. Bila dilakukan perbandingan dengan dua bahasa dunia lainnya, yaitu
Arab dan Inggris, kerancuan seperti dalam bahasa Indonesia ini ternyata tidak
terjadi dalam dua bahasa tersebut. Dalam bahasa Arab organ tubuh dalam dada
yang bernama jantung itu disebut dengan nama قلب (!!qalb!!). Demikian pula
ketika berbicara mengenai perasaan, untuk menyatakan hati senang misalnya
diungkapan dengan فرح قلبـــــي (fariha qalb-i). begitu pula dalam bahasa
inggris organ jantung adalah Heart dan ketika mengungkapkan perasaan juga
menggunakan kata Heart misalnya “don’t hurt my hearth” Ini menunjukkan adanya
konsistensi bahasa, baik secara fisik maupun psikis, sama merujuk pada satu
organ tubuh yaitu qalb atau jantung.
Semoga artikel di atas dapat
menjawab semua persoalan anda tentang perasaan, jantung, dan hati. Terima kasih
telah menyempatkan waktu anda untuk membaca artikel sederhana ini dan jika ada
kesalahan mohon berikan komentar anda di bawah dan maaf jika saya ada
salah-salah kata.
Source: rio-mamdoeh.blogspot.co.id
wikipedia.org


5 komentar
kunjungi dan baca juga Tanda Pria Jatuh Cinta
Nice
Mantap
maka tepatlah ulama thoriqoh ketika membaca La Ilaha Illallah diarahkan ke arah dada sebelah kiri (jantung) dengan kuat-kuat. Agar penyakit hati (qolbun) hilang dan semakin dekat kepa Allah.
wallahu a'lam
Makasih banyak
EmoticonEmoticon